Sunday, 5 July 2015

Pertemuan Pertama Dengan Mertua dan Calon Istri. Bagian I

Memang gampang gampang susah , susah tapi gampang, itu memang sesuatu yang aku alami 'dulu', mengingat usia yang semakin bertambah seperti nya sudah bukan waktunya lagi bagiku untuk terus berleha dan bersenang diri. (Yups jomblo)

Banyak yang nyaranin aku mulai dari teman biasa, sahabat, orang baru kenal, bahkan bos besarku pun juga ikut memberi saran menyuruhku cepat-cepat cari pasangan buat dinikahin. Dorongan demi dorongan secara silih berganti sepertinya semakin membuatku tidak tahan mendengarnya. Hanya kata sabar yang selalu ku ucapkan ketika mereka memberi dorongan.

Katakan lah waktu itu aku memang telat, tapi aku woles aja gak mau pusing, akhir nya kesadaran itu datang juga, aku gak mau bersedih dengan masa laluku menjalin kasih dengan seseorang. semoga saja kedepannya bisa lebih baik.

Puspita Adinda, Ya. Sosok wanita yang kutemui dari dunia maya (internet) 

Setelah sekian pencarian dan beberapa wanita yang aku kenal, proses perkenalan pun silih berganti, mulai dari si A ,si B ,si C dan seterus nya sampai kenal lah diriku sama Dinda (panggilanku kepadanya) baca juga : Berawal Dari Internet aku temukan jodohku 

Caraku berkenalan ke setiap wanita yang aku deketin masih tetap menggunakan metode yang sama, menggunakan proposal cinta, tanpa banyak muluk muluk aku pun langsung sampaikan visi dan misiku. (Baca juga :  Visi misi Saya mencintai Anda)

Dari beberapa perkenalan ada yang respon di awal ,saling memberi dukungan, tapi memang gak jodoh akhir nya berhenti di jalan.

Ada juga yang langsung il fill dengan visi misi ku, kesan nya aku buru buru dan tergesa gesa, hahahaha.. Ya iyalah, aku maklum soal nya wanita yang aku kenal saat itu jauh terpaut dengan usia ku, usia dia emang sedang semangat nya mengejar karir dan cita cita, tapi itu woles aja walau kadang aku malu sama diri sendiri.

Kemudian ada juga udah merasa akrab cocok, tapi dia lebih memilih materi, akhirnya ujung ujung nya dia udah diambil dan sekarang sudah menjadi istri orang. Ya woles aja lagi.

Terus ada lagi orangnya nya smart, pinter, cantik, intelek, tetapi masalah nya aku yang gak pede hehehehe semakin aku tau dia, semakin aku ngerasa gak bisa ngimbangin hingga akhir nya aku  mutusin untuk tidak dilanjutkan.

Pengalaman-pengalaman diatas mungkin bisa ku jadikan pembelajaran sekaligus mengetahui personalnya masing-masing.

Puspita Adinda atau yang akrab disapa Dinda, waktu itu Komunikasi semakin intensif ,hampir tiap hari aku atau dia saling menelpon tergantung siapa yang ada pulsa.

Namun sayang perkenalanku dengan Dinda tidak didukung sama keadaan ku sekarang, ada beberapa persoalan yang harus aku atasi, tapi itu bukan halangan yang berarti, justru akan  menjadi semangat ku nanti.

Ya, menjadi seorang perantau yang jauh dari lokasi dinda. Itulah penghalangku saat ini.

Meski aku mengenal Dinda baru beberapa hari. Seketika itu aku bilang dan pamer ketemen dengan satu alasan. Namun mereka macam macam juga sih respon nya, tapi umum nya mereka senang dengan apa yang aku dapatin.

Alasannya Karena kebanyakan dari si A Si B dan Si C dst. Banyak yang tidak setuju dengan prinsipku selama ini, seperti cinta itu tidak harus berpatokan dia orang bule atau bukan, janda atau perawan, anak orang kaya atau biasa, wanita karir atau pekerja, cantik atau tidak.  bagiku what ever.

Dia terima keadaan ku, terima kekurangan ku dan terima apa ada nya, aku pun juga sama, dari apa yang dia punya dan tidak gak masalah. Dan itu hanya Dindalah yang mengerti dan menerima apa kata dari prinsipku. Disitulah mengapa aku menunjukan dia kepada teman-teman.

"Bro Ini loh calonku, So jangan ditawar tawarin lagi aku ama yang lain,"kataku kepada mereka

Kembali ke masa perkenalan kita sudah bisa saling menerima dan punya satu komitmen. Hanya itu yang penting menurut aku.

Hari demi hari hubungan komunikasi semakin dekat, aku pun ingin terus tersenyum dan berbangga ria saat mengetahui dinda mulai mengenalkan pada keluarganya tentang komunikasiku dengannya dan Alhamdulillah keluarganya me respon baik soal ini.

Aku pun tak mau kalah, untuk bisa memberitakan hal ini kepada orang tua dan keluargaku dan syukur alhamdulillah mereka mendukungku.

Suatu ketika, pada saat aku menelpon dinda. Ibu kandung dinda selalu menyahut pembicaraanku dengan penuh canda tawa. Dan disinilah keyakinanku semakin bertambah bahwa dinda memang benar-benar bakal menjadi pendamping hidupku satu-satunya dan selamanya.

Lebih bangga lagi. Semisal aku membicarakan tentang pernikahan dengan dinda. Dan lagi-lagi pembicaraan semacam itu mendapat nilai positif dari keluarganya. Bahkan kakak dari dinda mendukung penuh hubungan adeknya denganku. Alhamdulillah.

Waktu Telah Tiba

Setelah sekian lama melakukan komunikasi dengan dinda kurang lebih dua bulan lamanya hehehe. Waktu yang kita nantikan pun segera tiba. Berawal dari ucapan basmallah aku memutuskan dan berniat karena Allah SWT untuk bisa mendatangi/dan bersilahturahmi dengan keluarga dinda sekaligus bertemu sosok seorang (dinda)

Besok, merupakan Tanggal 7 juli. Tanggal dimana langkah awal kakiku menuju ke kediamannya. Perjalanan yang bakal ku naiki bakal memakan waktu dua hari mulai dari transpot laut hingga udara.
Diperkirakan, pada tanggal 9 nanti aku telah tiba di kota dimana dia tinggal. Dan alhamdulillah. Dinda berkata :

"Tanggal 9 nanti aku jemput kamu dibandara, selanjutnya akan kukenalkan dirimu pada keluargaku,"

 Bersambung...


Jadikan pengalaman Sebagai pembelajaran. 

Load comments