Wednesday, 8 June 2016

Cerita Perjalanan ke Eropa 2016

Foto menjelang keberangkatan ke Eropa. Juanda Surabaya
MIC Transformer adalah leading provider for Human Capital Improvement, yang bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia dan corporate training dengan metode pelatihan Edutainment dan Experiential Learning yang menitik beratkan pada belajar melalui pengalaman sebagai bagian dari materi. Oleh karena itu, kami akan berbagi kisah kepada Anda tentang Experiential Learning kami ke Eropa yang sangat luar biasa ini.

Keberangkatan kami ke Eropa tersebut tidak lepas dari hasil kerja keras tim. Dimana, Setiap personal dituntut untuk menjadi orang yang Valuable Person, Valuable Team dan Valuable Leader, ketiga Value ini telah di bangun dalam tim kami yang solid sehingga mampu menjadikan perusahaan kami mengalami peningkatan profit dari tahun ke tahun. Tak heran jika mentor kami Julianto Eka Putra (Ko Jul) tak segan segan memberangkatkan team MIC Transformer beserta beberapa devisi dibawah naungan Binar Group diberikan kesempatan ber-Experiential Learning ke lima Negara di Eropa untuk menggali ilmu yang akan dibawa ke Indonesia.

Sebelum Experiential Learning dimulai, sebanyak 31 orang yang telah mengajukan Visa ternyata sebagian diantara mereka mengalami penolakan yakni 8  Visa milik tim SMA Selamat Pagi Indonesia dan 5 Visa lainnya milik tim Binar Group. Namun, sebagai tim kami tidak pernah putus asa untuk melakukan berbagai terobosan untuk bisa meloloskan semua Visa yang telah diajukan dan pada akhirnya kami pun mengajukan Visa yang mengalami penolakan tersebut melalui jalur premium. Syukurlah. Tepat pada H3 sebelum pemberangkatan ke Eropa 13 visa tersebut akhirnya bisa diterima oleh pihak kedutaan. Sehingga tidak ada satu pun dari tim kami yang tertinggal. Terima kasih Tuhan ucapan syukur terus kami panjatkan dalam tangan kuasa-Mu.

Minggu, 19 Maret 2016 merupakan hari yang telah di tunggu-tunggu, Hari ini Kami awali perjalanan sejak pukul empat pagi menuju bandara Juanda Surabaya. Pesawat pertama kami menuju Jakarta terbang pukul 06.45. Setiba di bandara Soekarno-Hatta dua tim dari Binar Group Jakarta segera bergabung. Tim Experiential Learning pun telah lengkap. Sembari menunggu pesawat kedua yang akan membawa kami ke Hongkong pukul 14.25, kami makan siang sekaligus briefing konsep dokumentasi selama di Eropa.

Pesawat siap. Kami dibawa melintasi Jakarta – Hongkong selama 4 jam. Kami beruntung diberi fasilitas maskapai legacy carries (Full service airlines) sampailah kami tiba di Hongkong pukul 20.30 GMT +8. Begitu mendarat, Mentor kami Ko Jul mengajak kami santap malam di foodcourt T2 Hongkong International Airport seraya menunggu keberangkatan selanjutnya pada pukul 00.45 menuju destinasi pertama kami ke Eropa Ko Jul memabagikan sharing kepada kami mengenai apakah orang – orang benar-benar memahami arti kerja keras, Arti melakukan yang terbaik, arti berjuang dan berusaha?

Sebab bila kami tidak memahami arti tersebut 13 visa yang sempat mendapat penolakan dari kedutaan tidak akan bisa diterima. Tetapi berkat usaha Ko Jul yang terus berusaha mencari jalan dan akhirnya didetik terakhir pihak kedutaan mengeluarkan Visa tersebut. Banyak orang yang selalu mengatakan tidak bisa atau tidak mungkin padahal sejatinya mereka masih belum berjuang dengan maksimal. Selama kita masih bisa dan selama ada waktu maka jangan pernah hanya dengan mudah mengatakan ini kehendak Tuhan itu adalah cara termudah manusia untuk berusaha lebih, karena tidak ada seorang manusia pun mengetahui ini kehendak Tuhan atau bukan, jadi benar-benar to the Best. Itulah sharing mentor kami kepada Tim. Bagaimana beliau selalu menegaskan sebagai Tim harus selalu berusaha sampai ketitik terakhir dia tidak bisa melangkah.

Selama perjalanan dari Hongkong ke Milan yang membutuhkan waktu selama 11 Jam tersebut, sejumlah tim dari kami tak henti-hentinya terus mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan YME bisa diberi kesempatan untuk berexperiential learning ke Eropa. Dimana, selama dilingkungan pekerjaan, Ko Jul selalu mendidik tim kami untuk menjadi seorang Valuable Person yakni ahli dalam 5 bidang. Ahli Bersyukur Ahli Berpikir, Ahli Bertindak, Ahli Berkomunikasi, dan Ahli Beramal. Dimana, dengan memiliki 5 Ahli ini maka kita bisa menjadi most wanted person.

Syukur kepada Tuhan, akhirnya kami sampai dengan selamat di Eropa. Duomo di Milano adalah destinasi pertama di kota ini, saat kami tiba, area penuh dengan lautan manusia. Rupanya diarea ini sedang di adakan lomba lari maraton. Karena padatnya tempat ini, kami perlu menunggu hingga agak lengang agar bisa menuju Katedral.

Lantas, ada apa di Duomo of Milan? Kami disuguhi katedral super megah dengan arsitektur gotik yang sangat indah. Setiap patung dan ornament dindingnya diukir begitu detail. Desain serta tata ruangnya sungguh mengagumkan, Bayangkan, bangungan seluas 157 meter yang menampung 40 ribu orang ini tak memerlukan pengeras suara. Kami juga dapat mendengar suara lonceng menggema sempurna ke seluruh kota . Hal ini terjadi karena berkat lubang-lubang kecil di dinding gereja yang membantu proses resonasi. Teknologi kuno yang luar biasa.

Kami juga mengunjungi Monument of Victorio Emannuel II yang letaknya di sekitar Duomo. Sembari menunggu jam makan siang, kami makan gelato asli italia. Rasanya? Enakkk! Dikedia ini. Kami menyadari bahwa tidak semua orang italia bisa berbahasa inggris, termasuk si penjual gelato. Jadi kami pakai bahasa tubuh. Tunjuk sana tunjuk sini yang penting sama-sama mengerti.

Setelah itu kami ke Castello Sforzesco. Sebuah kastil super luas yang kini digunakan sebagai museum karya Michaelangelo dan Leonardo da Vinci. Tak melulu lorong dan karya yang dipajang, pihak museum juga menyediakan tempat duduk agar pengunjung bisa lebih lama menikmati karya sekaligus suasana. Hampir sehari kami menikmati Milan, jelaslah bahwa kota ini cukup tua. Banyak bangunan-bangunan kuno serta flat dengan cerebong asap, persis seperti yang sering tampak di film film.

Malam pertama di Milan sungguh istimewa! Kami di ajak menyaksikan langsung pertandingan big macth AC MILAN vs LAZIO di San Siro Stadium. Pertandingan ini disiarkan langsung ke seluruh dunia, Penontonnya banyak, Yang unik lagi. Kami melihat banyak gerombolan anak-anak usia SD yang nonton bareng dengan gurunya. Dari awal hingga akhir pertandingan mereka dan penonton lokal bersorak-sorai dan meneriakkan yel-yel untuk tim kesayangan. Pertandingan berakhir imbang, skor 1:1.  

Satu hal yang dapat kami pelajari dalam pertandingan AC Milan Vs LAZIO ialah gol gol yang telah tercipta kedua tim tersebut tidak lepas dari kerja sama tim, mereka membangun kerja sama yang baik antar satu sama lain, tidak mementingkan dirinya sendiri melainkan bagaimana melangkah agar mencapai sebuah gol bagi timnya. Sungguh pengalaman yang menakjubkan yang pernah ada dalam kehidupan kami.

Di Milan, kami menginap di Radisson Blu Hotel, Hotel bintang 4 yang nyaman namun tak menyediakan air mineral botol untuk minum para tamu, Mengapa demikian? Karena air kran di Milan dan juga seluruh Eropa bisa diminum langsung. Konsep kamar mandi hotel ini adalah toilet kering yang menyediakan kloset duduk sekaligus ada bidet. Semula kami bingung apa fungsi benda mirip westafel namun lebih pendek dan diletakkan bersebelahan dengan kloset ini. Ternyata usut punya usut, bidet ini berfungsi untuk bilas setelah kita buang air kecil atau besar.

Ada beberapa hal lain yang kami rasakan di Milan. Kota Milan tidak terlalu teratur dan bersih. Masih banyak coretan coretan di tembok. Warga Milan didominasi pengguna city car. Kebanyakan mobil yang berlalu lalang tampak kusam seperti lama tidak dicuci. Sesekali tampak mobil station wagon untuk keluarga nyaris serupa dengan yang di Negara kita, sampah berserakan dijalan usai lari maraton digelar. Satu lagi, tour leader kami berpesan agar kami lebih waspada karena banyak copet di kota ini.

Dari Milan ke Roma butuh waktu tujuh jam kurang lebih seperti waktu tempuh Surabaya ke Yogyakarta. Kami menempuh perjalanan darat dengan bus. Melawati highway yang bebas macet dan hambatan lalu lintas lain. Kami juga melewati banyak terowongan, seperti di film-film. Di Italia, mereka lebih memilih melubangi gunung daripada membuat jalan diatasnya. Terowongannya berukuran besar, lengkap dengan 3-4 jalur kendaraan.

Destinasi pertama kami di Vatikan Roma adalah Basilika Santo Petrus. Baru sampai pagarnya saja, beberapa dari kami (khususnya yang beragama katolik) menangis haru. Sama sekali tak menyangka bisa sampai disini. Basilika Santo Petrus adalah gereja katolik terbesar di dunia.  Dari Basilika kami langsung bertolak menuju Colosseum, bangunan yang dulu dijadikan area tarung para gladiator. Selanjutnya kami mengunjungi Trevi de Fountain. Dikolam berasitektur indah ini terkenal mitos jika berhasil melempar koin dengan tangan kanan melewati bahu kiri suatu saat bisa kembali ke tempat ini. Otomatis kami pun beramai –ramai melempar koin ke kolam.

Perjalanan berikutnya adalah kota Assisi. Perjalanan sekitar 2,5 jam dari Roma. Jaraknya 120 mil.Assisi sebagai kota kelahiran Santo Fransiskus Assisi. Masuk dalam salah satu warisan budaya Unesco. Kotanya sudah tua, terletak di bukit yang cukup tinggi. Kami tiba pada malam hari. Saat bus menanjak, dari kejauhan kami melihat kota Assisi yang diterangi dengan sorot lampu yang indah. Tanpa dikomando, kami kompak bilang "waaahhh" berjamaah.

Kalau di Roma cenderung panas di Assisi dingin sekali. Anginnya kencang badan seperti mau terbang terbawa angina. Kota tua ini cantik, tertata rapi suasana tenang khas pedesaan. Kami makan malam di restoran yang dekorasinya cantik dengan pelayan memakai jas lengkap. Menunya mamimia lezato! Spaghetti, mushroom, roasted chicken, and potato. Porsinya besar. Hari itu kami ditutup dengan menginap di Grand Dei Congressi hotel dengan interior super indah.

Hari keenam tiba, saatnya kami menuju Interlaken, Swiss. Perkiraan cuaca disana sekitar -6 derajat selsius, kami tidak sabar segera bertemu salju disana! Ada yang menarik ketika sampai di perbatasan Italia dan dan Swissmenyerupai loket tol di Indonesia. Tidak ada pemeriksaan. Hal ini disebabkan oleh Negara-negara yang kami kungjungi tergabung dalam Uni Eropa, antar Negara seperti antar provinsi.

Swiss termasuk Negara yang bersih dan tertib serta bebas copet. Setiap kendaraan yang lewat harus di uji mesin dan emisinya. Peraturannya ketat. Dalam q haru, operasi bus dibatasi 12 jam saja. Kalau lebih 1 jam, esok hari operasi bus harus dikurangi 1 jam. Secara umum. Penduduk swiss cenderung lebih gemuk berkulit putih dan bermata biru. Sebagian besar bisa bicara bahasa jerman. Untuk mata uang, Swiss tidak menggunakan euro, tetapi Swiss franc. Namun demikian mereka tetap mau menerima euro. Dulu saat belum menjadi Uni Eropa, tiap Negara di Eropa menggunakan mata uang dan visa yang berbeda-beda. Bagi turis ini sangat merepotkan.

Pagi hari di Grindelwald suhunya 9 derajat selsius. Dingin tapi masih bisa di teleransi. Mungkin karena kami sudah beberapa hari terkena hawa dingin, jadi badan kami rasanya sudah beradaptasi. Lalu kami ke stasiun kereta untuk menuju ke Top Of Europe di Jungfraujoch. Sampai , dilokasi kami naik kelantai paling atas lalu keluar melihat salju abadi. Perjalanan dilanjutkan. Kami naik ke ketinggian 4000 mdpl menggunakan lift super cepat. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama disana di ketinggian itu oksigen sangat tipis sehingga membuat pusing dan sesak. Suhu udara pun mencapai -7,9 derajat selsius. Super dingin! Sejauh ini kami benar-benar bersyukur bisa menikmati pengalaman langka ini. How great is our God. Ciptaan-Nya luar bisa indah. Thank you. God!

Dari Grindel wald kami menuju ke Luzern. Kota penghasil jam tangan. Disana banyak berderet tokoh jam ternama seperti Omega, Rolex, Tag, Huer, Patek Phillippe dll. Luzern memiliki pemandangan kota yang tak kalah cantik. Ada juga danau berlatar gunung salju yang atasnya terbentang tulisan “couple bridge”. Konon, para jomblo disarankan melewati jembatan itu agar segera dapat pasangan.

Sampai hari ini, Kami bersyukur diberi kesempatan untuk melakukan experiential learning “ life is a Service” di kota ini. Saat beranjak dari “ couple bridge” tiba-tiba mentor kami Julianto Eka Putra masuk ke sebuah kafe untuk membeli beberapa gelas kopi panas. Kemudian kopi itu diberikan kepada dua orang petugas yang sedang membantu mengatur jalan. Mereka menerima pemberian kami dengan gembira. Mentor kami mengajarkan bahwa petugas itu telah menyelematkan banyak orang dengan mengatur lalu lintas. Kalau tidak ada mereka tentu akan terjadi macet bahkan kecelakaan. Ada banyak orang yang lalu lalang sepanjang hari, tapi tidak ada seorang pun yang perhatian kepada mereka. Padahal mereka pasti sudah berjam-jam bertugas di udara dingin seperti ini. Hal kecil yang kami lakukan, sedikit perhatian berupa segelas kopi, tentu sangat beharga bagi mereka.

Disinilah kami belajar banyak dari mentor kami selama berexperiential learning. Dimana kami diajarkan untuk bisa menjadi be a Valuable Leader. Pemimpin yang terbaik adalah pelayan kelas wahid dimana dia bekerja paling keras, mengambil bagian paling sedikit, namun penyertaan Tuhan padanya sungguh luar biasa. Memimpin dan dipimpin merupakan dua hal yang terkait erat. Seorang pemimpin yang baik hendaknya menjadi panutan bagi yang di pimpin. Anggapan bahwa menjadi pemimpin jauh lebih enak dari yang dipimpin membuat banyak orang ingin menjadi pemimpin. namun tidak banyak yang menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin tidak hanya sekedar memberi perintah, namun seorang pemimpin harus dapat merebut hati timnya, membuat mereka rela untuk dipimpin, dapat mengarahkan tim yang dipimpinnya sehingga dapat berkembang dan membawa perusahaan menjadi lebih maju.

Untuk itu, para pemimpin yang menjadi tolak ukur hendaknya tidak hanya dapat memberikan tuntutan, namun juga dapat menjadi seorang partner kerja, rekan dan pendukung setia bagi timnya. Dengan menyadarkan makna memimpin dan mendorong para pemimpin untuk mau mendekatkan diri dan berjuang bersama dengan seluruh anggota timnya, rela untuk berbagi dengan anggota timnya, membimbing mereka tanpa henti, sehingga akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang dicintai dan disegani oleh timnya dan membuat perusahaan semakin kokoh dan berkembang.

Setelah kami berbagi kepada para petugas pengatur jalan. Selanjutnya kami menuju Strasbourg, Kota warisan Unesco diperbatasan Perancis dan Jerman, yang berasal dari Grand Island. Semula Strasbourg adalah pulau yang berkembang menjadi kota. Kebanyakan penduduk hidup sebagai pedagang. Mereka gemar minum bir bahkan kerap menggelar beer festival.  Selama disini kami juga ikut merasakan CEST ( Central European Summer Time), dimulai pada hari minggu terkahir bulan Maret sampai hari minggu terakhir bulan Oktober. CEST hanya berlaku saat musim panas artinya disini waktu dimajukan satu jam lebih awal. Jika sebelumnya beda waktu Indonesia – Eropa adalah enam jam, mulai pukul 02.00 ini hanya beda lima jam. Hal ini disebabkan matahari bersinar lebih lama saat memasuki musim panas.

Sebelum bertolak ke Paris. Kami makan siang di Metz. Di kota kami kembali merasakan keajaiban. Sepanjang perjalanan hujan turun dengan deras, tour leader kami bingung karena nantinya kami harus jalan kaki untuk sightseeing serta ke restoran. Ternyata, begitu tiba di tujuan hujan deras berhenti, kami pun menikmati keindahan kota kecil ini dengan nyaman.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Ah, rasanya tak sabar menuju Paris. Paris benar-benar kota padat. Bangungunan berhempitan banyak lampu lalu lintas di sana sini mirip Jakarta, macet pun tak terhindarkan. Sebagai pusat mode dunia, paris menjadi surge produk branded. Saat berkunjung ke kota ini, sebaiknya jangan memakai barang KW saat berkunjung ke tenant resmi. Jika ketahuan tas atau dompet palsunya bisa digunting petugas setempat. Dikota ini kami menginap di Best Western Hotel. Kamarnya memang tidak sebesar hotel-hotel sebelumnya, tapi tetap menampilkan interior – interior cantik.

Sekarang kami berada di pusat kota Paris. Kami sudah siap menghadapi kemacetan kota ini. Rupanya, Tuhan memberikan hadiah yang indah bagi kami. Di hari senin ini, kota Paris sedang libur merayakan hari Paskah – bukan hari Minggu seperti pada umumnya. Hal ini membuat kota super padat ini lebih lengang dari kemarin dan mungkin hari biasanya gedung perkantoran tutup dan tak kalah penting : no traffic jam. Kami bisa menikmati kota impian kami dengan sangat nyaman.

Perjalanan kami dari Hotel diwarnai langit gelap. Sampai di Arc the Triomphe, kami cepat-cepat berfoto di bawah hujan, lalu segera kembali ke bus. Rupanya, prakiraan cuaca hari ini akan terjadi hujan badai dari pagi hingga sore. Di dalam bus, kami segera berdoa bersama, meminta agar hujan berhenti. Sekali lagi, kebesaran Tuhan kemabli terjadi, tiba di tujuan berikutnya hujan berhenti langit yang sebelumnya mendung gelap perlahan tersingkap berganti warna biru cerah seolah awan gelapnya ditiup menjauh dari langit Paris.

Yang kami nanti telah tiba Paris City Tour,  Dari Arc the Triomphe kami ke Sacre Coeur di bukit Montmartre. Dulu tempat ini berada diluar benteng kota Paris. Ini adalah tempat tinggal orang-orang miskin dan para seniman. Mereka enggan tinggal didalam kota Paris karena pajak yang terlalu tinggi. Dari tempat ini kami bisa melihat pemandangan indah kota Paris. Sebelum makan siang kami kembali ke Arc the Triomphe untuk foto foto kerana cuaca kembali cerah. Kami makan siang di restoran chinese food. Restoran kami terletak didekat menara Eiffel. Sampai di taman dekat Eiffel kami begitu terharu seperti tak percaya bisa tiba disini. Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang kau berikan ini our dream comes true.  Dari paris ke Brussels butuh waktu empat jam. Selanjutnya kami ke Grand Palace pusat kota berupa lata yang luas dan dikelilingi bangunan tua yang cantik. di sekitarnya banyak toko souvenir dan kafe. Souvenir khas Belgia adalah pernak –pernik serba Tintin, karena Brussels adalah kota kelahitan tokoh komik dunia ini.

Hari kesebelas Experiential Learning adalah hari terkeren sepanjang perjalanan. Kami sarapan di Perancis, makan siang di Belgia dan makan malam di Belanda. Dari Brussels kami bertolak ke Amsterdam, kota terbesar di Belanda. Sampai di Amsterdam kami melepas kangen dengan masakan Indonesia restoran Desa. Pemiliknya juga orang Indonesia, menunya soto, sate ayam, rendang, telur dadar dan ikan goreng.

Amsterdam merupakan kota yang cukup padat. Lahan parker terbatas dan tarifnya mahal sekali sehingga banyak orang yang menggunakan seperda untuk berkendara. Ini menarik sebab cara ini berhasil mengurangi kemcaetan serta polusi. Kami juga banyak melihat charging area untuk mobil listrik yang menunjukkan bahwa Negara ini benar-benar peduli dengan udara yang bersih. 

Hari ketiga belas tiba waktuna kembali ke Indonesia. Hotel kami tidak jauh dari bandara, hanya berjarak 15 menit. Pesawat siap mengantar pulang pukul 13.10. bandara di Amsterdam di sebesar Hongkong. Beberapa petugas imigrasi menyambut kami dengan kalimat “Apa kabar?”, “Hallo Cantik”, “Mau pulang ke Indonesia, ya?’” setelah tahu kami rombongan dari Indonesia. Kami sempat kaget melihat bule dibelanda. Dengan ramah menyapa kami menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar lancer. Usai melayani kami. Mereka pun mengucapkan “ Terima Kasih sudah berkunjung” . entah ini karena alas an historis Indonesia – Belanda atau memang factor layanan yang lebih? Karena saat bule Perancis yang masuk, mereka pun menyapa dengan ucapan “ Banjour”. Bagian ini membuat kami merasa istimewa.


Experiential Learning telah selesai. Banyak hal yang kami pelajari. Sekarang waktunya fight lagi. Kerja dan Berkarya untuk kesuksesan bersama (dan untuk our next experiential learning pastinya!) Semangat .

Load comments